Home » » I am a Full Time Mom and Very Happy

I am a Full Time Mom and Very Happy

Written By Unknown on Selasa, 03 Mei 2016 | 05.21



Pilihan menjadi seorang ibu rumah tangga setelah bertahun-tahun menjadi wanita karir bukanlah hal yang mudah. Butuh sebuah keikhlasan untuk bisa menjalaninya dengan bahagia. Sebab jika tidak bahagia menjalaninya, bukan bahagia yang didapat justru nestapa yang dirasakan. Menjadi ibu yang bekerja dinilai lebih produktif jika dibandingkan dengan ibu rumah tangga sepenuhnya. Anggapan ini tidaklah tepat, sebab saat ini dimana era digital sudah menghampiri semua lini kehidupan maka menjadi ibu rumah tangga yang produktif dari rumahpun bisa tetap dilakukan.

Ketika saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan hal pertama yang menjadi pertimbangan adalah suami dan anak. Sebuah keluarga dimana istri dan suami hidup terpisah amatlah melelahkan bagi saya. Kadangkala ketika anak sakit saya mesti mengantarnya ke dokter sendirian, meskipun malam hari. Bertemu dengan suami 1 minggu sekali rasanya sudah sangat menyikasa bagi saya. Kadangkala ada masalah yang ingin saya ceritakan kepada suami sudah menguap manakala suami pulang yaitu sabtu malam.

Namun hal yang menjadi pertimbangan cukup mendasar adalah Royyan membutuhkan figure ayah sepenuhnya. Dia tidak hanya membutuhkan ayah untuk mengajaknya bermain bola di hari minggu saja. Tapi royyan membutuhkan ayahnya unyuk membangun kepribadiannya sebagai lelaki seutuhnya. Dari ayahnya seorang anak laki-laki belajar bertanggung jawab, berani mengambil keputusan, melindungi keluarga, menyayangi keluarga. Begitu pula dari ayahlah anak belajar tentang TuhanNya. Misalnya, mengajaknya pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.

Ketika sudah menjalani hidup dalam satu atap bersama suami dalam 10 bulan terakhir ini, saya sangat merasakan perbedaan Royyan. Dia kini tampil menjadi pribadi yang supel, kepercayaan dirinya meningkat, lebih mandiri, rajin ke masjid bareng ayah dan teman-temannya. Hal ini tentu saja merupakan sebuah kemajuan yang membahagiakan kami orang tuanya.

Saya tidak sedang menghakimi pejuang LDR. Namun saya menceritakan pengalaman pribadi saya setelah bertahun-tahun hidup terpisah dengan suami. Masing-masing keluarga punya perjuangan sendiri. Semoga Allah jadikan putra kami generasi Rabbani yang selalu istiqomah dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
SHARE

About Unknown

0 komentar :

Posting Komentar