Pilihan menjadi seorang ibu rumah tangga setelah
bertahun-tahun menjadi wanita karir bukanlah hal yang mudah. Butuh sebuah
keikhlasan untuk bisa menjalaninya dengan bahagia. Sebab jika tidak bahagia
menjalaninya, bukan bahagia yang didapat justru nestapa yang dirasakan. Menjadi
ibu yang bekerja dinilai lebih produktif jika dibandingkan dengan ibu rumah
tangga sepenuhnya. Anggapan ini tidaklah tepat, sebab saat ini dimana era
digital sudah menghampiri semua lini kehidupan maka menjadi ibu rumah tangga
yang produktif dari rumahpun bisa tetap dilakukan.
Ketika saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan
hal pertama yang menjadi pertimbangan adalah suami dan anak. Sebuah keluarga
dimana istri dan suami hidup terpisah amatlah melelahkan bagi saya. Kadangkala
ketika anak sakit saya mesti mengantarnya ke dokter sendirian, meskipun malam
hari. Bertemu dengan suami 1 minggu sekali rasanya sudah sangat menyikasa bagi
saya. Kadangkala ada masalah yang ingin saya ceritakan kepada suami sudah
menguap manakala suami pulang yaitu sabtu malam.
Namun hal yang menjadi pertimbangan cukup mendasar
adalah Royyan membutuhkan figure ayah sepenuhnya. Dia tidak hanya membutuhkan
ayah untuk mengajaknya bermain bola di hari minggu saja. Tapi royyan
membutuhkan ayahnya unyuk membangun kepribadiannya sebagai lelaki seutuhnya. Dari
ayahnya seorang anak laki-laki belajar bertanggung jawab, berani mengambil
keputusan, melindungi keluarga, menyayangi keluarga. Begitu pula dari ayahlah
anak belajar tentang TuhanNya. Misalnya, mengajaknya pergi ke masjid untuk
melaksanakan sholat berjamaah.
Ketika sudah menjalani hidup dalam satu atap bersama
suami dalam 10 bulan terakhir ini, saya sangat merasakan perbedaan Royyan. Dia
kini tampil menjadi pribadi yang supel, kepercayaan dirinya meningkat, lebih mandiri,
rajin ke masjid bareng ayah dan teman-temannya. Hal ini tentu saja merupakan
sebuah kemajuan yang membahagiakan kami orang tuanya.
Saya tidak sedang menghakimi pejuang LDR. Namun saya
menceritakan pengalaman pribadi saya setelah bertahun-tahun hidup terpisah
dengan suami. Masing-masing keluarga punya perjuangan sendiri. Semoga Allah
jadikan putra kami generasi Rabbani yang selalu istiqomah dalam melaksanakan
perintahNya dan menjauhi laranganNya.
0 komentar :
Posting Komentar