Home » » Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu

Written By Unknown on Senin, 25 April 2016 | 21.48



Pernikahan sejatinya bukan untuk menemukan pasangan yang sempurna namun pasangan yang mau menerima kita dengan sempurna.
 
Ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas saya memimpikan suami seganteng brad pitt, yang tajir melintir, sholeh. Kala itu rasanya teman-teman di SMA tidak ada yang seganteng Brad Pitt wkwkwkwk. Naik tingkat menjadi mahasiswi masing pengin punya suami yang gantengnya kayak alm. Adji massaid, sholeh, suka travelling, wiraswasta. Naah lhoo ada perbedaan kriteria kan. Apakah dapat suami seperti mimpi tersebut? Alhamdulillah bahkan lebih dari itu. Allah mengirimkan lelaki yang saya membutuhkannya dan dia membutuhkan saya. Kami adalah dua pribadi yang saling melengkapi satu dengan lainnya. Kami bukan pasangan ideal atau kalau ikut ajang lomba pasangan paling romantis akan menang. Tapi kami saling mengisi satu sama lain.

Perjalanan pernikahan kami tidak semulus jalan tol. Pernah hidup saling berjauhan dalam waktu 10 tahun. Kalau istilah kerennya LDR an, ketemu seminggu sekali. Bahkan pernah sebulan sekali. Ada fase dimana saya seperti single parents sesaat setelah royyan lahir kemudian suami ada di luar kota dengan pekerjaannya. Namun hal itu membuat saya tegar dan tidak mudah menyerah. Dari setiap ujian yang menghampiri Allah selalu menyelipkan banyak sekali hikmah. Ketika masih LDR an selalu ada harapan bahwa pasti akan indah pada waktunya. Jangan berputus asa, selalulah berhusnudzon kepada Allah. Hikmah dibalik LDR an kami makin saling mencintai, menyayangi, memahami dan menghormati satu sama lain. Iya karena ketika pertemuan hanya seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali kami seperti orang yang baru nikah. Selalu rindu untuk bertemu hihi. Saling memahami dan menghormati karakter masing-masing.  
Kini 11 tahun kami menjalani pernikahan ini.

Dan di tahun ke-11pernikan kami ini Allah menjawab semua doa-doa kami. Alhamdulillah sekarang kami berkumpul, tidak lagi LDR an, kami tinggal satu atap. Bisa mendidik putra kami bersama, bertemu setiap hari, bercerita setiap hal yang dilalui hari itu rasanya sebuah kenikmatan, kebahagiaan besar. Meskipun dilain pihak saya harus melepaskan pekerjaan yang saya cintai selama ini. Tak apalah kalau dikatakan sarjana kok di rumah aja. Yang paling penting berkumpul dengan keluarga tercinta. Suatu hal yang mungkin bagi sebagian orang dianggap biasa saja, tapi bagi kami yang sudah lama menjalani hidup terpisah adalah sebuah kenikmatan.

Semoga Allah selalu menjadikan rumah tangga kita skinah, mawaddah wa rahmah yaa saying
Semoga allah menjadikan kita pasangan yang saling melengkapi, menerima masing-masing pasangan dengan sempurna baik kelebihan maupun kekurangannya. aamiinnn

SHARE

About Unknown

0 komentar :

Posting Komentar