Ketika masih duduk di bangku kelas 1 SMA saya ingin menjadi seorang Akuntan. Pas mau lulus ingin menjadi seorang arsitek tapi ngga pinter gambar..hehe. Akhirnya pas daftar kuliah saya ingin jadi seorang insinyur. Waktu itu rasanya insinyur itu keren. Entah insinyur apa tapi yang penting insinyur. Masuklah ke Jurusan Teknologi Hasil Pertanian dan saat menjelang lulus predikat insinyur berganti menjadi Sarjana Teknik.
Lulus kuliah saya malah ingin jadi guru, meneruskan
impian bapak dan ibu yang keduanya adalah guru.
Akhirnya masuk kuliah AKTA 4 supaya mendapat ijin mengajar karena
background pendidikan bukan dari Sarjana Pendidikan. Setahun kemudian lulus
kuliah AKTA 4 dan menikah. Kesempatan mengajar datang, namun baru 6 bulan
mengajar saya hamil. Karena alasan tempat mengajar yang jauh akhirnya oleh
suami diminta resign mengajar. Sampai anak saya lahir dan usianya 3 thun
barulah mulai menerima tawaran mengajar lagi di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di
Purwokerto.
Menjadi seorang guru sangatlah menyenangkan. Bisa
belajar dan mendidik anak-anak. Saya berpikir ooh inilah passion say. Namun
saya sering merasa jenuh dengan aktivitas yang sama setiap hari. Berangkatpukul
06.10 dan pulang pukul 15.00 membuat kehidupan social saya timpang. Bahkan saya
tidak bisa mengunjungi saudara yang rumahnya bersebelahan apalagi ikut taklim
di masjid dekat rumah. Belum lagi anak saya menjadi jauh dari saya karena lebih
banyak bersama asisten rumah tangga. Dari sini saya dan suami terus mengkaji
ulang mau dibawa kemana ini. Hingga akhirnya suami meminta saya ikut dengannya
dan resign dari mengajar yang sudah 5 tahun saya geluti. Sayapun mengiyakan permintaan
suami. Karena saya yakin ridho suami yang harus saya kantongi ketika saya
bekerja di luar.
Bulan Juni Tahun 2015 tepatnya saya pindah ke
Magelang mengikuti suami. Tiga bulan tanpa aktivitas selain mengerjakan
pekerjaan rumah tangga membuat saya bosan. Melihat peluang bisnis online yang
kian ramai, saya memberanikan diri mencoba menjadi distributor sprei dan
bedcover. Iya menjadi ibu rumah tangga yang mempunyai bisnis dan berpenghasilan
dari rumah adalah impian saya saat ini. Merasakan hiruk pikuk dunia yang makin
tak karuan, pergaulan anak sekarang yang memprihatinkan membuat saya tidak
ingin meninggalkan anak saya dengan orang lain. Meskipun tawaran mengajar masih
ada, tapi saya ingin berkarya dari rumah. Kalau ada yang nyinyir komentar “sekolah
mahal-mahal kok Cuma jadi ibu rumah tangga”, tidak masalah bagi saya. Hal
terpenting saat ini adalah keluarga saya.
bener banget mbak, keluarga itu nomer satu. Mencari mimpi yang kesana kesini akhirnya menemukan itu tak ternilai harganya :D
BalasHapus